Bukan Sekadar Air: Mengungkap Bahaya Tersembunyi Kuman dan Bakteri di Balik Asyiknya Bermain Banjir
Ketika air mulai menggenang di kawasan perkotaan, pemandangan anak-anak yang bermain dan berenang di genangan air banjir sering kali terlihat. Bagi mereka, banjir menghadirkan hiburan langka dengan sensasi berbeda. Namun, di balik tawa dan keceriaan itu, air banjir bukanlah air bersih. Ia merupakan campuran limbah, bakteri, dan zat berbahaya yang siap menyerang sistem kekebalan tubuh. Air banjir adalah media yang sangat efektif dalam menyebarkan berbagai penyakit, sehingga mengabaikan risikonya sama dengan membuka pintu bagi masalah kesehatan yang dapat mengancam nyawa.
1. Apa Sebenarnya Isi Air Banjir?
Air banjir bukan hanya air hujan. Ketika meluap, air mengangkut berbagai jenis kotoran, limbah, dan organisme patogen dari lingkungan sekitarnya. Bagi anak-anak yang memiliki sistem imun belum sekuat orang dewasa, paparan ini sangat berbahaya.
-
Limbah dan Kotoran (Feses)
Saat banjir, saluran air kotor, got, bahkan septic tank yang penuh dapat meluap. Kotoran manusia dan hewan bercampur langsung ke dalam genangan air, membawa bakteri seperti E. coli dan Salmonella yang dapat menyebabkan diare, kolera, dan tifus. -
Racun Kimia dan Logam Berat
Air banjir juga membawa tumpahan bahan kimia dari pabrik, bengkel, atau rumah tangga, seperti oli bekas, bensin, dan pestisida. Kontak kulit yang berkepanjangan dapat menyebabkan iritasi parah, sementara air yang tertelan berisiko menimbulkan keracunan. -
Urin Tikus dan Risiko Leptospirosis
Salah satu bahaya paling mematikan adalah kontaminasi urin tikus. Air banjir dapat membawa bakteri Leptospira yang masuk ke tubuh melalui luka terbuka, goresan, atau selaput lendir mata dan hidung. Penyakit leptospirosis dapat menyebabkan gagal ginjal, kerusakan hati, bahkan kematian jika tidak segera ditangani.
2. Penyakit-Penyakit yang Mengintai
Aktivitas bermain atau sekadar berjalan tanpa alas kaki di air banjir membuka peluang penularan penyakit serius berikut:
-
Leptospirosis: Disebabkan bakteri Leptospira yang masuk melalui luka atau selaput lendir.
-
Infeksi saluran pencernaan: Termasuk diare, kolera, dan tifus akibat bakteri seperti E. coli dan Salmonella.
-
Infeksi kulit: Kondisi lembap memicu berkembangnya bakteri dan jamur penyebab kurap, kudis, dan iritasi kulit.
-
Demam berdarah dengue (DBD): Setelah banjir surut, genangan air yang tertinggal menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak.
3. Bahaya Parasit dan Benda Tajam
Selain bakteri, air banjir dapat mengandung parasit seperti Giardia dan Entamoeba histolytica, yang menyebabkan diare berkepanjangan dan gangguan pencernaan. Air yang keruh juga menyembunyikan benda tajam seperti pecahan kaca atau besi berkarat yang dapat melukai kulit. Luka yang terpapar air banjir kotor sangat mudah mengalami infeksi berat.
4. Dampak pada Rumah dan Peralatan
Ketika banjir masuk ke rumah, kontaminasi dapat menempel pada lantai, dinding, perabotan, hingga mainan anak. Kuman pada permukaan ini dapat bertahan bahkan setelah air surut jika tidak dibersihkan dengan benar dan disinfeksi.











