Oh no! Where's the JavaScript?
Your Web browser does not have JavaScript enabled or does not support JavaScript. Please enable JavaScript on your Web browser to properly view this Web site, or upgrade to a Web browser that does support JavaScript.
banner.png
Segala Pelayanan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak GRATIS Pantau & Awasi Dana BOSP dan Laporkan Bila Ada Penyimpangan, Ketik BOSP (spasi)NPSN#isi laporan, atau Ketik BOSP(spasi)nama sekolah#kota#isi laporan, atau ketik BOSP(spasi)NIS#isi laporan, kirim ke 1771. Download JUKNIS BOSP segera
Selamat Datang
Articles

Kebiasaan Sepele, Efek Besar: Bahaya Rebahan Setelah Makan

Setelah menikmati makanan, rasa kenyang dan kantuk sering membuat tubuh ingin segera rebahan. Namun kebiasaan ini berdampak kurang baik bagi pencernaan dan kesehatan secara umum. Berbaring terlalu cepat dapat mengganggu kerja lambung, meningkatkan risiko asam lambung naik, serta menurunkan kualitas tidur.

1. Risiko GERD dan naiknya asam lambung

Saat makanan masuk ke lambung, sfingter esofagus bagian bawah (LES) berfungsi menutup agar isi lambung tidak kembali naik ke kerongkongan. Ketika Anda langsung berbaring, posisi horizontal membuat gravitasi tidak lagi membantu menjaga isi lambung tetap di bawah. Kondisi ini mempermudah asam lambung naik ke kerongkongan dan menimbulkan sensasi terbakar di dada (heartburn). Pada kasus berulang, refluks dapat mengiritasi dan merusak lapisan kerongkongan.

2. Pencernaan berjalan lebih lambat

Pengosongan lambung membutuhkan waktu. Posisi tegak membantu makanan bergerak lebih efisien melalui saluran pencernaan. Jika langsung rebahan, proses pengosongan lambung melambat, menyebabkan rasa begah, penuh, mual, atau tidak nyaman. Lambung harus bekerja lebih keras untuk mencerna makanan tanpa bantuan gravitasi.

3. Dampak pada kualitas tidur

Kebiasaan rebahan setelah makan besar, terutama pada malam hari, dapat mengganggu kualitas tidur. Ketika tubuh seharusnya beristirahat, sistem pencernaan masih aktif. Hal ini dapat membuat tidur menjadi gelisah, sering terbangun, atau munculnya keluhan heartburn saat malam. Banyak ahli merekomendasikan memberi jeda sekitar 2–3 jam antara makan malam dan waktu tidur agar pencernaan lebih stabil.

4. Potensi peningkatan berat badan

Sebagian penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan makan dan langsung tidur berkaitan dengan kenaikan indeks massa tubuh. Ketika aktivitas fisik sangat minim setelah makan, tubuh lebih cenderung menyimpan kelebihan energi dalam bentuk lemak. Meskipun bukan satu-satunya faktor, pola ini dapat berkontribusi pada peningkatan berat badan dari waktu ke waktu.

5. Risiko tambahan pada kondisi tertentu

Pada orang yang memiliki refluks gastroesofageal (GERD), gangguan menelan, atau masalah pencernaan lainnya, rebahan setelah makan meningkatkan risiko gejala memburuk. Pada kondisi tertentu, makanan atau cairan bahkan dapat masuk ke saluran napas (aspirasi), sehingga memerlukan perhatian medis.

Berapa lama sebaiknya menunggu?

Aturan praktis yang dianjurkan adalah menunggu 2–3 jam sebelum berbaring setelah makan besar. Tidak diperlukan aktivitas berat. Berjalan santai selama 10–15 menit dapat membantu mempercepat pencernaan, mengurangi kembung, dan menurunkan risiko naiknya asam lambung.

Menahan diri untuk tidak rebahan setelah makan adalah langkah sederhana untuk menjaga kesehatan pencernaan. Dengan memberi tubuh waktu untuk mencerna makanan secara optimal, Anda dapat mencegah refluks asam, mengurangi rasa tidak nyaman, mendukung kualitas tidur yang lebih baik, serta meminimalkan potensi penambahan berat badan. Aktivitas ringan setelah makan jauh lebih sehat dibanding langsung berbaring.

annisarahman 01/12/2025 08:36:55 57 reads 0 ratings Print

Rating is available to Members only.
Please Login or Register to vote.
Awesome! (0)0 %
Very Good (0)0 %
Good (0)0 %
Average (0)0 %
Poor (0)0 %

LAYANAN GTK
     Pencarian Data GTK
     Reg. Akun SIMPKB-ID
     Aplikasi SIMPKB
     Profesi Guru / PPG
     Login Info GTK