Mengapa Kecepatan Cahaya Mustahil Dilewati?
Kecepatan cahaya, 299.792.458 kilometer per detik atau lebih sering ditulis 300.000 km/s adalah batas tercepat yang bisa dicapai di alam semesta menurut fisika modern. Dalam film fiksi ilmiah, pesawat luar angkasa sering terlihat menembus galaksi hanya dalam hitungan detik. Tetapi dalam dunia nyata, hukum fisika punya aturan ketat yang membuat hal itu sangat sulit terjadi.
Semakin Cepat Bergerak, Semakin “Berat”
Menurut teori relativitas Einstein, jika sebuah objek bermassa bergerak sangat cepat, massanya akan bertambah. Semakin mendekati kecepatan cahaya, massa itu seperti “mengembang” tanpa batas. Akibatnya, semakin besar pula energi yang diperlukan untuk terus menambah kecepatannya. Untuk mencapai kecepatan cahaya, energinya harus tak terbatas dan jelas itu sesuatu yang tidak bisa kita sediakan dengan teknologi apa pun.
Butuh Energi Tidak Terhingga untuk Mencapai Kecepatan Cahaya
Roket bekerja dengan memberi dorongan (energi). Semakin cepat roket berjalan, semakin besar energi yang perlu diberikan untuk membuatnya sedikit lebih cepat lagi. Mendekati kecepatan cahaya, energi yang dibutuhkan melonjak drastis. Pada titik tertentu, tidak peduli seberapa kuat mesin roketnya, kecepatannya hampir tidak bertambah sama sekali. Ini seperti mendorong tembok yang makin lama makin tebal dan berat.
Waktu Objek Akan Melambat Drastis
Ketika mendekati kecepatan cahaya, waktu objek akan berjalan lebih lambat dibanding objek yang diam. Semakin cepat objek tersebut bergerak, semakin besar perlambatannya. Pada batas kecepatan cahaya, waktu hampir berhenti. Semua proses fisik seperti detak jantung, reaksi kimia, hingga sinyal listrik di otak tidak akan bekerja normal. Dengan kata lain, alam semesta punya “rem alami” agar sesuatu tidak bisa dipercepat terlalu jauh.
Batas Kecepatan Cahaya Menjaga Logika Sebab-Akibat
Kecepatan cahaya bukan hanya batas fisik, tetapi juga batas informasi. Tidak ada informasi apa pun yang boleh bergerak lebih cepat darinya. Jika ada yang bisa, maka informasi dapat berpindah waktu bahkan ke masa lalu dan menyebabkan paradoks seperti “mengirim pesan untuk mencegah dirimu sendiri lahir.” Agar hukum sebab-akibat tetap konsisten, alam semesta menetapkan kecepatan cahaya sebagai batas mutlak.
Ruang dan Waktu Memperlakukan Cahaya Secara Berbeda
Cahaya tidak punya massa, jadi ia bisa bergerak pada jalur istimewa dalam struktur ruang-waktu. Objek bermassa, seperti manusia, pesawat, atau atom sekalipun, tidak berada pada jalur itu. Mereka terikat pada “aturan perjalanan” yang berbeda dalam fabric ruang-waktu. Secara matematis, tidak ada jalan bagi objek bermassa untuk mencapai jalur cahaya tanpa kehilangan massanya sepenuhnya dan hal ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan.
Eksperimen Nyata Membuktikannya
Di laboratorium, partikel-partikel kecil seperti proton bisa dipercepat hingga 99,999999% dari kecepatan cahaya menggunakan mesin raksasa bernama akselerator partikel. Tetapi meskipun diberi energi dalam jumlah luar biasa besar, mereka tetap tidak pernah mencapai 100%. Batas itu benar-benar nyata, bukan sekadar teori. Partikel hanya menjadi semakin berat, bukan semakin cepat secara signifikan.
Kesimpulan
Kecepatan cahaya adalah batas kecepatan universal. Ia bukan sekadar angka, tetapi bagian mendasar dari cara alam semesta bekerja. Untuk melampauinya, sebuah objek harus mengalahkan energi, waktu, massa, dan bahkan struktur ruang-waktu itu sendiri, yang mana semuanya tidak memungkinkan menurut fisika yang kita pahami saat ini.
Disadur dari: https://www.physicsoftheuniverse.com/topics_relativity_light.html











