Oh no! Where's the JavaScript?
Your Web browser does not have JavaScript enabled or does not support JavaScript. Please enable JavaScript on your Web browser to properly view this Web site, or upgrade to a Web browser that does support JavaScript.
banner.png
Segala Pelayanan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak GRATIS Pantau & Awasi Dana BOSP dan Laporkan Bila Ada Penyimpangan, Ketik BOSP (spasi)NPSN#isi laporan, atau Ketik BOSP(spasi)nama sekolah#kota#isi laporan, atau ketik BOSP(spasi)NIS#isi laporan, kirim ke 1771. Download JUKNIS BOSP segera
Selamat Datang
Articles

Sejarah Perkembangan Antibiotik

Sejak zaman dahulu, manusia telah dihadapkan dengan berbagai penyakit yang disebabkan oleh infeksi. Salah satu penyakit infeksi yang menggemparkan dunia di masa lampau adalah penyakit pes yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, yang telah membunuh jutaan jiwa dan menyebabkan pandemi besar di Eropa dan Asia.

Era sebelum antibiotik
Sejak zaman dahulu, manusia telah dihadapkan dengan berbagai penyakit yang disebabkan oleh infeksi. Salah satu penyakit infeksi yang menggemparkan dunia di masa lampau adalah penyakit pes yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, yang telah membunuh jutaan jiwa dan menyebabkan pandemi besar di Eropa dan Asia. Hal ini, membuat manusia mulai memikirkan penyebab penyakit menular dan strategi penyembuhannya. Dalam upaya menangani penyakit infeksi, manusia kuno telah mencoba mempraktikkan fitoterapi (ilmu pengobatan penyakit yang menggunakan tanaman atau bagian tanaman sebagai terapi) dengan metode empiris (trial and error) dan memiliki prognosis kesembuhan yang beragam. Masyarakat Yunani kuno memanfaatkan pakis pria (Filix mas) dan suku Aztec di Meksiko menggunakan minyak kenopodium yang berasal dari tanaman Chenopodium ambrosioides dalam mengobati dan membasmi penyakit cacingan dalam usus, termasuk infeksi parasit cacing tambang. Orang India kuno (masyarakat hindu) juga menggunakan minyak kaulmogra untuk mengobati penyakit kusta (lepra). Orang Cina kuno memanfaatkan tanaman qinghaosu (mangandung artemisin) untuk mengobati malaria. Orang Indonesia juga menggunakan tanaman sebagai pengobatan, suku Mentawai dari Sumatera Barat menggunakan jamur tertentu untuk mengobati luka borok. Borok bernanah dapat disembuhkan dengan menutupi luka dengan kapang-kapang (sejenis jamur) tertentu, terapi khasiat ini diselidiki secara ilmiah oleh penemu penisilin, Alexander Flemming pada tahun 1928.

Pengobatan secara fitoterapi yang dilakukan masyarakat zaman dahulu tidak berjalan maksimal karena belum adanya penemuan dan deskripsi lengkap tentang mikroorganisme penyebab infeksi yaitu bakteri. Manusia pada zaman itu belum dapat melihat bakteri secara langsung. Pada tahun 1632-1723, Antonie van Leeuwenhoek menemukan mikroskop untuk dapat memvisualisasikan struktur mikroorganisme termasuk bakteri dengan baik. Perkembangan ilmu pengetahuan modern tentang infeksi bakteri semakin berkembang dimulai sejak akhir abad ke-19. Penelitian oleh Theodor Billroth (1829-1894), melakukan percobaan kultur bakteri untuk menemukan penyebab sepsis dan menemukan bakteri stafilokokus dan streptokokus. Sir John Scott Burdon-Sanderson (1828-1905) dan John Tyndall (1820-1893) mengamati hubungan penggunaan jamur dalam menggunakan aktifitas dari suatu bakteri. Joseph Lister (1827-1912) seorang ahli bedah dari Inggris memelopori perkembangan antiseptik kimia, seperti fenol untuk membunuh bakteri pada peralatan operasi dan pada luka operasi. Dr. Robert Koch (1843-1910) dan Dr. Louis Pasteur (1822-1895) membuktikan bahwa banyak penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan protozoa yang menular antar makhluk hidup.

Era awal antibiotik
Antibiotik sintetik pertama yang digunakan yaitu senyawa turunan aesenik arsfenamin dengan nama dagang salvarsan yang ditemukan oleh Paul Ehrlich (1854-1915) pada tahun 1912, Salvarsan digunakan dalam upaya mengobati penyakit sifilis. Penelitian Ehrlich berupaya menemukan obat yang dapat membunuh mikroba secara spesifik tanpa merusak sel inangnya. 

Era antibiotic modern 
Antibiotik pertama kali ditemukan oleh Dr. Alexander Flemming (1881-1955) pada September 1928 di Inggris. Alexander Flemming merupakan seorang professor bakteriologi yang bekerja di Rumah Sakit St. Mary di London. Penemuan ini sering disebut sebagai masa dimulainya era antibiotik. Penisilin menjadi dasar untuk menyembuhkan infeksi bakteri termasuk cacar (varisela), kolera, difteri, tuberkulosis, meningitis pneumonia, dan gonore.

Awalnya Flemming memiliki kendala dalam menghasilkan penisilin dalam jumlah besar, namun kontribusi dari Howard Walter Florey (1898-1968), Ernst Boris Chain (1906-1979), dan Norman Heatley (1911-2004) berhasil menyempurnakan penelitian antibiotik penisilin dan dapat diproduksi dalam skala besar. Antibiotik merupakan obat yang bukan hanya dibuat untuk melawan dan menyembuhkan penyakit akibat infeksi bakteri tetapi juga mencegah pertumbuhan lebih lanjut dari infeksi bakteri tersebut.

Penemuan aktifitas dari obat antibiotik golongan Sulfametoksazol oleh seorang dokter asal Jerman, Paul Gerhard Domagk (1895-1964) pada tahun 1930 menandai kelanjutan dari perkembangan penemuan antibiotik. Domagk melakukan pengujian dalam skala besar pada lembaga penelitian Bayer menggunakan pewarna yang mengandung sulfonamida. Penelitian tersebut menggunakan tikus yang diinduksi bakteri Streptococcus hemolitik yang sangat virulen dan hasil penelitian Domagk menunjukkan kekuatan dan keefektifan zat tersebut dalam melawan infeksi bakteri. Domagk memberikan nama paten awal obat tersebut dengan nama Protonsil yang mulai dipasarkan pada tahun 1935. Keberadaan Protonsil telah berhasil mengurangi kasus kematian akibat infeksi kokus gram positif, pneumonia, meningitis, dan lainnya. Pada saat ini, obat golongan sulfa diberikan kombinasi dengan trimethoprim, yang bekerja dengan melakukan penghambatan sintesis asam folat sel bakteri dan memiliki efek bakterisida.

Pada tahun 1943, peneliti Selman Waksman, Albert Schatz, dan Elizabeth Bugie melalui program penyaringan berhasil menemukan antibiotik dari golongan aminoglikosida yang diisolasi dari Streptomyces anulatus yang dinamakan Streptomisin. Streptomisin memiliki spektrum luas dan mengganggu sintesis protein bakteri dengan menghambat pengikatan ke subunit ribosom 30s. Pada tahun 1950-an, ditemukan senyawa Kanamisin yang berhasil diisolasi dari Streptomyces kanamyceticus yang dibudidayakan dari Jepang. Kloramfenikol, salah satu antibiotik yang memiliki spektrum luas, berhasil diisolasi dari Streptomyces venezuelae oleh John Ehrlich dan rekan-rekannya pada tahun 1947. 

Penemuan antibiotic lainnya yaitu Tetrasiklin yang ditemukan oleh Duggar pada tahun 1948 yang berhasil diisolasi dari kaldu fermentasi Streptomyces rimosus dan Streptomyces aureofaciens. Senyawa tetrasiklin memiliki kerja bakteriostatik dan bekerja menghambat sintesis protein. Antibiotik golongan makrolida disintesis dari isolasi Streptomyces erythreus yang berasal dari sampel tanah di Filipina tahun 1952 oleh James M. McGuire. Antibiotik ini bekerja dengan mengikat subunit 50s ribosom dari bakteri, menghambat translokasi sintesis protein bakteri. Makrolida yang pertama ditemukan adalah Eritromisin, yang kemudian dilanjutkan dengan pengembangan antibiotik semisintetik untuk menghilangkan ketidakstabilan eritromisin, seperti Klaritromisin dan Azitromisin. Salah satu senyawa dari golongan Ansamycin yaitu Rifampisin yang ditemukan dan mulai diisolasi di Italia sejak 1957. Isolasi senyawa berasal dari Amycolatopsis rifamycinica. Rifampisin bersifat bakterisida dengan menghambat sintesis RNA dan secara klinis efektif dalam mengeradikasi Mycobacterium tuberculosis. Antibiotik golongan kuinolon sintesis bekerja dengan menghambat enzim bakteri DNA girase (topoisomerase II). Enzim DNA gyrase sangat penting bagi kelangsungan perkembangan bakteri. Asam Nadiliksat sebagai kuinolon generasi awal, ditemukan sebagai produk sampingan dari sintesis Klorokuin (obat malaria). Siprofloksasin merupakan golongan kuinolon dengan spektrum luas dan dipatenkan pada tahun 1981. Siprofloksasin masih merupakan salah satu senjata utama sebagai antibiotik yang masih digunakan hingga saat ini.

Referensi
Nugraheni, E., Soripada, T. A., Hasibuan, M. I. R., Siahaya, P. G., Serihati, A. Y. T., Putra, A. G. A., Ramadhan, A. Y., Sulistyowati, T., Veronica, R. M., Widyawati, T., & Agustiawan. (2025). Resistensi antibiotik. PT Adab Indonesia.

annisarahman 06/10/2025 09:30:48 82 reads 0 ratings Print

Rating is available to Members only.
Please Login or Register to vote.
Awesome! (0)0 %
Very Good (0)0 %
Good (0)0 %
Average (0)0 %
Poor (0)0 %

LAYANAN GTK
     Pencarian Data GTK
     Reg. Akun SIMPKB-ID
     Aplikasi SIMPKB
     Profesi Guru / PPG
     Login Info GTK